BERBURU TELOLET
Namaku Didin umur 18
tahun perkerjaan sebagai pengacara “penggangguran banyak acara” walaupun
menganggur tapi saya tidak bersantai-santai karena saya banyak acara. Aku
tinggal di kampung Juritan bersama kedua orang tuaku dan adik yang bernama Asri. Aku juga
mempunyai sahabat yang bernama Bagus, yang biasa dipanggil Bagus karena memang
itulah namanya.
Pada suatu sore kami berjalan ditepi jalan,
pulang dari Warnet (Warung Internet).
Kami melihat anak kecil dan remaja sedang membawa kardus yang bertuliskan “OM
TELOLET OM”.
Bagus bertanya kepada
mereka“Oeey cah cilik koe kurang gawean”.
“Nopo mas, Iki gek
ngeTreend loo, mas e ndeso og” jawab anak kecil tersebut.
Lalu ada bus yang
datang dari kejauhan, anak kecil dan remaja tersebut berteriak “OM... TELOLET
OM......”.
“TELOLET TELOLET
TELOLET” Suara klakson bus .
“Horeeee...” Sorak
bahagia
“Wuiih asikk juga nih,
Din bagaimana kalau besok pagi kita mencari telolet bersama” tanya bagus
kepadaku.
“Iyaa betuk sepertinya
asikk juga, Okee dehh.. besok pagi kita berburu telolet” jawabku.
“Yasudah sekarang kita
pulang jaga stamina buat besok, okeeeh...” ajak bagus
“bhuaahahah...Lebaay
amat luuu gus..” ejek ku
Keesokan harinya, aku
bangun dan bersiap-siap untuk berburu telolet. Aku menunggu bagus sambil menonton berita tv. Ternyata fenomena “OM
TELOLET OM” sedang naik daun. Aku pun semakin bersemangat untuk berburu telolet.
Tak lama kemudian Bagus datang kerumahku.
“Udah siap belum Din”
tanya bagus kepadaku.
“Siappp.... bentar yaa
aku ijin orang tuaku dulu” jawabku.
“Okee Din” kata bagus.
“Bukkk.. Pakkk...”
panggilku
“Aduhh...
pagi-pagi gini udah rapi mau kemana Mas”
tanya Asri.
“Mas mau pergi
bersama bagus buat berburu telolet, nanti kalau ketemu ibu atau bapak tolong
pamitin yaa dek” jawabku.
“Okee.. Mas” kata
Asri.
Selang beberapa menit
Ibu pulang membawa lauk untuk sarapan mereka sekeluarga. Ibu mencari Didin,
untuk mengajaknya makan bersama.
“Sri, “Didin ke mana,
sudah sejak pagi tadi aku tidak melihat wajahnya? “ tanya Bu Janah.
“Mas Didin pergi
bersama teman-temannya ke pinggir jalan raya. Katanya sih mau Telolet, Bu, “
jawab Sri.
“O alah, Din, Telolet
ki panganan opo. Lha, mbok baca sholawat di rumah bisa untuk sangu akhirat”
kata Ibu.
“Telolet itu suara
klakson bis bu” jawab Asri.
“Walah yaudah kalau
Didin udah pulang ingetin buat makan ya Sri..” pinta Ibu kepada Asri.
“Yaa buu.. nanti Asri
bilangin ke Didin” jawab Asri.
Sebelum kami berburu telolet, aku dan Bagus
membeli minuman dan cemilan untuk bersiap-siap agar saat berburu telolet tidak
kelaparan. Sesampainya di pinggir jalan, kami mengeluarkan peralatan yang
berupa kardus yang bertuliskan “OM
TELOLET OM”.
“Kamu sudah siapp
Gus.. “ tanyaku kepada bagus.
“Siapp ayoo kita
berburu telolet” jawab Bagus.
“OM TELOLET OM”
teriaku.
“Nunggu bus lewat dulu
dull..” ejek bagus.
“Oiyaa yaa” jawabku
sambil meringis.
Akhirnya sesuatu yang
kita tunggu-tunggu datang , bus datang dengan kecepatan tinggi. Kami berdua
tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk berteriak dan mengangkat kardus,
agar si pengemudi bus melihat kami berdua.
“OM TELOLET OM!!”
teriak kami berdua.
Namun si pengemudi bus tidak menanggapi kami berdua.
“Walah pancen paijoo
tenan” kata Bagus.
“Sabar Gus kita cari
bus yang laen” menenangkan Bagus.
Terlihat kembali bus
yang datang dari kejauhan.
“Lihat Gus itu ada bus”
kataku.
“Okee ayoo kita
tuntaskan tujuan kita..” kata Bagus dengan bersemangat.
“OM TELOLET OM” teriak
kami berdua.
Supir bus yang melihat
kardus dan mendengar teriakan kami lalu membunyikan klakson.
“TELOLET TELOLET
TELOLET” suara klakson bus.
“Yeaaayyy akhirnya
tujuan kita tercapai” kata Bagus dengan muka yang bahagia.
“Okee sekarang mau
kemana lagi kita Gus” tanyaku.
“Pulang lah mau kemana
lagi” jawab Bagus.
“Okee broo” kataku
sambil menepuk pundak Bagus.
Akhirnya mereka berdua
telah mencapai tujuanya yaitu berburu telolet dan pulang dengan perasaan puas.

No comments:
Post a Comment